TUNANETRA/
A
Tunanetra:
adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang mengalami
gangguan atau hambatan dalam indra penglihatan nya.
Tunanetra
adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat
diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind)
dan low vision.
Definisi
Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah
penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau
tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbatasan dalam
indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain
yaitu indra peraba dan indra pendengaran.
Barraga dalam Samuel A.Kirk,
mengemukakan bahwa orang yang buta memiliki persepsi sinar tanpa proyeksi (yang
berarti mereka merasakan adanya sinar tetapi tidak mampu memproyeksikannya atau
mengidentifikasi sumber sinarnya), sedangkan Faye dalam Samuel A.Kirk
mendefinisikan orang yang kurang lihat sebagai orang yang meskipun sudah
diperbaiki penglihatannya masih lebih rendah atau kurang dari normal tetapi
memiliki penglihatan yang dapat dipergunakan secara berarti. Geraldine I
School, mengemukakan bahwa orang yang memiliki kebutaan menurut hukum (legal
blindness), apabila ketajaman penglihatan sentralnya 20/200 feet atau kurang
pada penglihatan terbaiknya setelah dikoreksi dengan kacamata atau ketajaman
penglihatan sentralnya lebih dari 20/200 feet,
tetapi ada kerusakan pada lantang pandangnya sedemikian luas sehingga diameter
terluas dari lantang pandangnya membentuk sudut yang tidak lebih besar dari 20
derajat pada mata terbaiknya.
Oleh
karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada
individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara,
contohnya adalah penggunaan tulisan braille,
gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan media yang bersuara
adalah tape recorder dan
peranti lunak JAWS.
A.
KLASIFIKASI TUNANETRA
Ketunanetraan dapat diklasifikasikan berdasarkan 3 hal:
a.
Berdasarkan
Tingkat Ketajaman Penglihatan
Tingkat ketajaman penglihatan yang
dihasilkan dari tes Snellen, dapat dikelompokan menjadi berbagai tingkatan.
Hasil tes Snellen 20/20 feet atau 6/6 meter menunjukan bahwa penglihatannya
normal. Gangguan penglihatan yang ringan atau yang mempunyai ketajaman antara
6/6 meter - 6/16 m atau 20/20 feet -20/50 feet, tidak dikelompokkan pada
tunanetra atau bahkan masih dapat dikatakan normal sedangkan yang mengalami
gangguan penglihatan yang cukup berat atau kurang dari 6/20m atau 20/70 feet,
sudah dikategorikan tunanetra. Dengan demikian, klasifikasi tunanetra
berdasarkan ketajaman penglihatan dapat dikemukakan sebagai berikut:
Ø Tunanetra dengan ketajaman
penglihatan 6/20 m - 6/60 m atau 20/70 feet -20/200 feet. Tingkat ketajaman
penglihatan seperti ini pada umumnya dikatakan tunanetra (low vision). Pada
taraf ini, para penderita masih mampu melihat dengan bantuan alat khusus.
Ø Tunanetra dengan ketajaman
penglihatan antara 6/60 m atau 20/200 feet atau kurang.
Ø Tingkat ketajaman seperti ini sudah
dikatakan tunanetra berat atau secara umum dapat dikatakan buta (bind).
Kelompok ini masih dapat diklasifikasikan lagi menjadi berikut ini:
1. Kelompok tunanetra yang masih dapat
melihat gerakan tangan.
2. Kelompok tunanetra yang hanya dapat
membedakan terang dan gelap.
Ø Tunanetra yang memiliki visus 0
Pada taraf yang terakhir ini, anak sudah tidak mampu lagi
melihat rangsangan cahaya atau dapat dikatakan tidak dapat melihat apapun.
Kelompok ini sering disebut buta total (totally blind).
b.
Berdasarkan
saat terjadinya ketunanetraan
F Tunanetra sebelum dan sejak lahir
Ø Kelompok ini terdiri dari orang yang
mengalami ketunanetraan pada saat dalam kandungan atau sebelum usia satu tahun.
F Tunanetra batita
Ø Tunanetra batita yaitu orang yang mengalami
ketunanetraan pada saat ia berusia dibawah tiga tahun.
F Tunanetra balita
Ø Tunanetra balita yaitu orang yang
mengalami ketunanetraan pada saat ia berusia antara 3-5 tahun.
F Tunanetra pada usia sekolah
Ø Kelompok ini meliputi anak yang
mengalami ketunanetraan pada usia anak 6 -12 tahun.
F Tunanetra remaja
Ø Tunanetra remaja adalah orang yang
mengalami ketunanetraan pada saat usia remaja atau antara usia 13-19 tahun.
F Tunanetra dewasa
Ø Tunanetra dewasa yaitu orang yang
mengalami ketunanetraan pada usia dewasa atau usia 19 tahun keatas.
c.
Berdasarkan
adaptasi pendidikan
Klasifikasi tunanetra ini tidak
didasarkan pada hasil tes ketajaman tetapi didasarkan adaptasi/penyesuaian
pendidikan khusus yang sangat penting dalam membantu mereka belajar atau
diperlukan dalam menentukan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan
penglihatannya. Klasifikasi ini dikemukakan oleh Kirk, yaitu sebagai berikut:
Ø Ketidakmampuan melihat taraf sedang
Ø Ketidakmampuan melihat taraf berat
Ø Ketidakmampuan melihat taraf sangat
berat
B.
PENYEBAB TERJADINYA TUNANETRA
Penyebab tunanetra pada faktor internal dan eksternal :
a. Faktor internal
Faktor
internal merupakan penyebab ketunanetraan yang timbul dari dalam diri individu,
yang sering disebut juga faktor keturunan. Faktor ini kemungkinan besar terjadi
pada perkawinan antarkeluarga dekat dan perkawinan antartunanetra.
b. Faktor eksternal
Faktor
eksternal yang dimaksudkan disini merupakan penyebab ketunanetraan yang berasal
dari luar diri individu. Antara lain sebagai berikut:
Ø Penyakit rubella dan syphilis
Merupakan suatu penyakit yang
disebabkan oleh virus yang sering berbahaya dan sulit di diagnosa secara
klinis.
Ø Glaukoma
Merupakan suatu kondisi dimana
terjadi tekanan yang berlebihan pada bola mata. Hal ini terjadi karena struktur
bola mata yang tidak sempurna pada saat pembentukannya dalam kandungan. Kondisi
ini ditandai dengan pembesaran pada bola mata, kornea menjadi keruh, banyak
mengeluarkan air mata, dan merasa silau.
Ø Retinopati diabetes
Suatu kondisi yang disebabkan oleh
adanya gangguan dalam suplai/aliran darah pada retina. Kondisi ini disebabkan
oleh adanya penyakit diabetes.
Ø Retinoblastoma
Merupakan tumor ganas yang terjadi
pada retina dan sering ditemukan pada anak-anak.
Ø Kekurangan vitamin A
Vitamin A berperan dalam ketahanan
tubuh terhadap infeksi. Kekurangan vitamin A akan menyebabkan kerusakan pada
matanya, yaitu kerusakan pada sensitivitas retina terhadap cahaya (rabun senja)
dan terjadi kekeringan pada konjungtiva bulbi yang terdapat pada celah kelopak
mata, disertai pengerasan dan penebalan pada epitel.
Ø Terkena zat kimia
Zat-zat kimia juga dapat merusak
apabila penggunaannya tidak hati-hati.
Ø Kecelakaan
Benturan keras mengenai syaraf mata
atau tekanan yang keras terhadap bola mata, dapat menyebabkan gangguan
penglihatan, bahkan ketunanetraan.
C.
PENCEGAHAN TERJADINYA TUNANETRA
a. Pencegahan secara Medis
Ø Melakukan pemeriksaan genetika
kepada dokter ahli sebelum menikah sehingga akan diketahui apakah gen mereka
dapat meneyebabkan kecacatan atau tidak pada anak yang kelak akan dilahirkan.
Ø Menghindari penggunaan terapi
radioaktif bagi ibu hamil, terutama pada usia kandungan 3 bulan pertama dan 3
bulan ketiga.
Ø Pencegahan terhadap virus menular
seperti virus rubella, syphilis, dan sebagainya.
Ø Pemberian vitamin A dosis tinggi
untuk mencegah kekurangan vitamin A .
Ø Melakukan pemeriksaan dini kepada
dokter mata, apabila terjadi keluhan pada mata secara serius.
b. Pencegahan secara sosial
Ditinjau dari segi sosial, upaya
pencegahan terjadinya tunanetra dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan
antara lain sebagai berikut:
F Memberikan penyuluhan mengenai
penyebab terjadinya tunanetra.
F Kegiatan yang dilakukan oleh Pusat
Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
F Meningkatkan perlindungan
keselamatan kerja para buruh di perusahaan-perusahaan, terutama pada perusahaan
yang banyak menggunakan bahan kimia.
c. Pencegahan secara Edukatif
Dalam upaya pencegahan
tunanetra secara edukatif, keluarga dan
sekolah memegang peranan penting yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
Ø Peranan keluarga
Keluarga memegang peran penting dalam
menanamkan kebiasaan hidup sehat, terutama dalam penggunaan dan pemeliharaan
kesehatan penglihatannya.
Ø Peranan sekolah
Sekolah sebagai wahana bagi anak
untuk memperoleh berbagai pengetahuan, turut berperan dalam upaya mencegah
terjadinya ketunanetraan pada para siswa.
D.
KARAKTERISTIK ANAK TUNANETRA
a.
Karakteristik Anak Tunanetra dalam
Aspek Akademis
Menurut Tillman & Obsorg (1969),
ada beberapa perbedaan antara anak tunanetra dan anak awas yaitu:
a. Anak-anak tunanetra menyimpan
pengalaman-pengalaman khusus seperti anak awas, tetapi pengalaman-pengalaman
tersebut kurang terintegrasikan.
b. Anak-anak tunanetra mendapat angka
yang hampir sama dengan anak awas dalam hal berhitung, informasi, dan kosa
kata, tetapi kurang baik dalam hal pemahaman (comprehension) dan persamaan.
c. Kosa kata anak-anak tunanetra
cenderung merupakan kata-kata yang definitif, sedangkan anak awas menggunakan
arti yang lebih luas. Contoh, bagi anak tunanetra kata malam berarti gelap atau
hitam, sedangkan bagi anak awas, kata malam mempunyai makna cukup luas, seperti
malam penuh bintang atau malam yang indah dengan sinar purnama.
Study
yang dilakukan oleh Kephart & Schwartz (1974), juga menunjukkan bahwa
anak-anak yang mengalami gangguan penglihatan yang berat cenderung memperoleh
kemampuan berkomunikasi secara lisan, dan mampu berprestasi, seperti anak awas
(ada beberapa tes standar). Di lain pihak kemampuan mereka untuk memproses
informasi sering berakhir dengan pengertian yang terpecah-pecah atau kurang
terintegrasi, sekalipun dalam konsep yang sederhana.
Dengan demikian, berbagai pendapat diatas
menunjukkan bahwa ketunanetraan dapat mempengaruhi prestasi akademik para
penyandangnya. Disamping itu peningkatan dalam penggunaan media pembelajaran
yang bersifat auditory dan taktil dapat mengurangi hambatan dalam kegiatan
akademik siswa. Disamping itu pendengaran merupakan indra mereka yang dapat
digunakan untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan yang mereka peroleh karena
mereka mempunyai bakat (talented) dalam bidang musik.
b.
Karakteristik Anak Tunanetra dalam
Aspek Pribadi dan Sosial
Beberapa
literatur mengemukakan karakteristik yang mungkin terjadi pada anak tunanetra
yang tergolong buta sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari
kebutaannya adalah:
Ø Curiga pada orang lain
Keterbatasan rangsangan
visual/penglihatan, menyebabkan anak tunanetra kurang mampu untuk berorientasi
pada lingkungannya sehingga kemampuan mobilitasnya pun terganggu.
Ø Mudah tersinggung
Pengalaman sehari-hari yang sering
menimbulkan rasa kecewa dapat mempengaruhi tunanetra sehingga tekanan-tekanan
suara tertentu atau singgungan fisik yang tidak sengaja dari orang lain dapat
menyinggung perasaannya.
Ø Ketergantungan pada orang lain
Sifat ketergantungan pada orang
lain mungkin saja terjadi pada tunanetra. Hal tersebut mungkin saja terjadi
karena ia belum berusaha sepenuhnya dalam mengatasi kesulitannya sehingga
selalu mengharapkan pertolongan orang lain.
c.
Karakteristik Anak Tunanetra dalam
Aspek Fisik/sensoris dan Motorik/perilaku
Ø Aspek fisik dan sensoris
Dilihat secara fisik, akan mudah
ditentukan bahwa orang tersebut mengalami tunanetra. Hal tersebut dapat dilihat
dari kondisi matanya dan sikap tubuhnya yang kurang ajeg serta agak kaku. Pada
umumnya kondisi mata tunanetra dapat dengan jelas dibedakan dengan mata orang
awas. Mata orang tunanetra ada yang terlihat putih semua, tidak ada bola
matanya atau bola matanya agak menonjol keluar. Namun ada juga yang secara
anatomis matanya, seperti orang awas sehingga kadang-kadang kita ragu kalau dia
itu seorang tunanetra, tetapi kalau ia sudah bergerak atau berjalan akan tampak
bahwa ia tunanetra.
Dalam segi indra, umumnya anak
tunanetra menunjukkan kepekaan yang lebih baik ada indra pendengaran dan
perabaan dibanding anak awas. Namun kepekaan tersebut tidak diperolehnya secara
otomatis, melainkan melalui proses latihan.
Ø Aspek Motorik/Perilaku
Ditinjau
dari aspek motorik/perilaku anak tunanetra menunjukkan karakteristik sebagai
berikut:
Ø Gerakannya agak kaku dan kurang
fleksibel
Oleh
karena keterbatasan penglihatannya anak tunanetra tidak bebas bergerak, seperti
halnya anak awas. Dalam melakukan aktivitas motorik, seperti jalan, berlari
atau melompat, cenderung menampakkan gerakan yang kaku dan kurang fleksibel.
Ø Perilaku stereotipee (stereotypic
behavior)
Sebagian
anak tunanetra ada yang suka mengulang-ngulang gerakan tertentu, seperti
mengedip-ngedipkan atau menggosok-gosok matanya. Perilaku seperti itu disebut
perilaku stereotipee (stereotypic behavior). Perilaku stereotipe lainnya adalah
menepuk-nepuk tangan.
Disamping
karakteristik diatas, berikut ini akan dikemukakan aktivitas-aktivitas motorik
yang sering ditunjukkan oleh anak kurang lihat (low vision).
Ø Selalu melihat suatu benda dengan
memfokuskan pada titik-titik benda. Dengan mengerutkan dahi, ia mencoba melihat
benda yang ada di sekitarnya.
Ø Memiringkan kepala apabila akan
memulai melakukan suatu pekerjaan. Hal itu dilakukan untuk mencoba menyesuaikan
cahaya yang ada dan daya lihatnya.
Ø Sisa penglihatannya mampu mengikuti
gerak benda. Apabila ada benda bergerak di depannya, ia akan mengikuti arah
gerak benda tersebut sampai benda tersebut tidak tampak lagi.
E.
KEBUTUHAN DAN LAYANAN PENDIDIKAN
BAGI ANAK TUNANETRA
1.
Kebutuhan Pendidikan
Kehilangan penglihatan menyebabkan
anak tunanetra sulit dalam melakukan mobilitas, artinya sulit untuk bergerak ,
dari satu tempat ketempat lainnya yang diinginkan . Oleh karena itu, kepada
mereka perlu diberikan suatu keterampilan khusus , agar dapat melakukan
mobilitas dengan cepat , tepat dan aman bagi anak yang tergolong buta sisa
penglihatannya tidak lagi digunakan untuk membaca huruf awas sehinga bagi
mereka digunakan huruf Braille.
Adanya keterbatasaan tersebut
diatas, menghambat anak tunanetra dalam berbagai aktivitas yang dilakukan oleh
orang awas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena memiliki hambatan
maka selain membutuhkan layanan pendidikan umum sebagai mana halnya anak awas,
anak tunanetra membutuhkan layanan khusus untuk merehabilitasi kelainannya.
2.
Layanan Pendidikan Bagi Anak
Tunanetra
Layanan pendidikan bagi anak
tunanetra pada dasarnya sama dengan layanan pendidikan bagi anak awas hanya
dalam teknik penyampaiannya disesuaikan dengan kemampuan dan ketidak mampuan
atau karakteristik anak tunanetra.
a.
Jenis Layanan
Ditinjau dari segi jenisnya, layanan
pendidikan bagi anak tunanetra meliputi layanan umum dan layanan khusus.
Ø Layanan umum
Latihan yang diberikan terhadap anak
tunanetra, umumnya meliputi hal-hal berikut:
§ Keterampilan
§ Kesenian
§ Olahraga
Ø Layanan khusus/layanan rehabilitasi
Layanan khusus /rehabilitasi yang
diberikan terhadap anak tunanetra, antara lain sebagai berikut:
v latihan membaca dan menulis braille
v latihan penggunaan tongkat
v latihan orientasi dan mobilitas
v latihan visual/fungsional
penglihatan
b.
Tempat /Sistem Layanan
Ø Tempat khusus/ sistem segregasi
Tempat pendidikan melalui sistem segregasi bagi anak
tunanetra adalah berikut ini:
a.
Sekolah khusus
Sekolah khusus yang konvensional
adalah Sekolah Luar Biasa untuk anak tunanetra (SLB bagian A). Sekolah ini
memiliki kurikulum tersendiri yang dikhususkan bagi anak tunanetra.
b.
Sekolah
Dasar Luar Biasa (SDLB)
SDLB yang dimaksudkan disini berbeda
dengan SDLB yang ada dalam kurikulum 1994. SDLB yang dimaksud dalam kurikulum
tersebut, diperuntukkan bagi satu jenis kelainan, yaitu anak tunanetra saja,
sedangkan dalam konsep SDLB ini merupakan suatu sekolah pada tingkat dasar yang
menampung berbagai jenis kelainan, seperti tunanetra, tunarungu, tunagrahita,
tunadaksa.
c.
Kelas
jauh/kelas kunjung
Kelas jauh/kelas kunjung adalah
kelas yang dibentuk untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak luar biasa
termasuk anak tunanetra yang bertempat tinggal jauh dari SLB/SDLB.
Ø Sekolah biasa/sistem integrasi.
Penyelenggaraan sistem pendidikan
terpadu memerlukan seorang ahli ke-PLB-an yang disebut Guru Pembimbing Khusus
(GPK),dan ruang bimbingan khusus untuk memberikan layanan khusus bagi anak
tunanetra.
Melalui sistem integrasi/terpadu,
anak tunanetra belajar bersama-sama dengan anak normal (awas) dengan memperoleh
hak kewajiban yang sederajat. Sekolah
dasar atau sekolah biasa lainnya yang menerima anak tunanetra (anak luar biasa
pada umumnya) sebagai siswanya, disebut sekolah terpadu. Apabila disekolah
tersebut tidak terdapat bagi anak luar biasa maka secara otomatis sebutan
sekolah terpadu tidak berlaku lagi (kembali disebut sekolah dasar atau sekolah
biasa lainnya). Melalui sistem pendidikan terpadu, anak tunanetra akan
memperoleh keuntungan berikut:
a. Memperoleh kesempatan yang
seluas-luasnya untuk mengenyam pendidikan bersama-sama dengan anak awas
lainnya.
b. Kesempatan yang seluas-luasnya untuk
mempersiapkan diri dalam menghadapi lingkungan dengan membiasakan diri
berinteraksi dengan teman-temannya yang awas.
Bentuk keterpaduan dalam sistem
pendidikan integrasi, sangat bervariasi. Kirk & Gallagher (1989:61-62)
mengemukakan bentuk-bentuk keterpaduan/integrasi yang meliputi:
v Bentuk kelas biasa dengan guru
konsultasi (regular classroom with consultant teacher)
v Kelas biasa dengan guru kunjungan
(itinerant teacher)
v Kelas biasa dengan ruang sumber
(resource room) atau ruang bimbingan khusus
v Kelas khusus (special class)
c.
Ciri Khas Layanan
Hal-hal yang khas dalam pendidikan
anak tunanetra adalah berikut ini:
·
Penempatan
anak tunanetra
Dalam menempatkan anak tunanetra, perlu diperhatikan hal-hal
berikut:
Ø Anak tunanetra ditempatkan didepan,
agar dapat mendengarkan penjelasan guru dengan jelas.
Ø Memberikan kesempatan kepada anak
tunanetra untuk memiliki tempat duduk yang sesuai dengan kemampuan
penglihatannya
Ø Anak tunanetra hendaknya ditempatkan
berdekatan dengan anak yang relatif cerdas, agar terjadi proses saling
membantu.
Ø Tidak diperkenankan dua anak
tunanetra duduk berdekatan, agar lebih terintegrasi dengan anak awas.
·
2) Alat peraga yang digunakan hendaknya
memiliki warna yang kontras. Pada alat peraga bahan cetakan, antara tulisan dan
warna dasar kertas harus kontras.
·
3) Ruang belajar bagi anak tunanetra
terutama anak low vision cukup
mendapatkan cahaya/penerangan.
Untuk membantu tunanetra
beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi
dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya
mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana
menggunakan tongkat putih (tongkat
khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium).
Ciri
– Ciri Anak Tunanetra
Ø Tidak
mampu melihat
Ø Tidak
mampu mengenali orang pada jarak 6 meter
Ø Kerusakan
nyata pada kedua bola mata
Ø Sering
meraba-raba/tersandung waktu berjalan
Ø Mengalami
kesulitan mengambil benda kecil didekatnya
Ø Bagian
bola mata yang hitam berwarna keruh/bersisik/kering
Ø Pandangan
hebat pada kedua bola mata
Ø Mata
yang bergoyang terus
F. Alat Asesmen
Bervariasinya kelainan penglihatan pada anak tunanetra menuntut adanya pemeriksaan
yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan
kelebihan yang dimilikinya. Assesmen kelainan penglihatan dilakukan untuk mengukur kemampuan penglihatan dalam
bentuk geometri, mengukur kemampuan penglihatan dalam mengenal warna, serta
mengukur ketajaman penglihatan.
Alat yang digunakan
untuk assesmen penglihatan anak tunanetra dapat seperti di bawah ini.
a.
Snellen
Chart (alat untuk mengetes ketajaman
penglihatan dalam bentuk huruf dan simbol E)
b.
Ishihara
Test (alat untuk mengetes ”buta warna”)
c.
SVR
(Trial Lens Set) (alat untuk mengukur ketajaman penglihatan)
d.
Snellen
Chart Electronic (alat untuk mengetes ketajaman penglihatan sistem elektronik-bentuk huruf dan simbol E)
1.
Orientasi dan Mobilitas
Pada umumnya anak
tunanetra mengalami gangguan orientasi mobilitas baik sebagian maupun secara
keseluruhan. Untuk pengembangan orientasi mobilitasnya dapat dilakukan dengan
menggunakan ini.
alat-alat berikut
ini.
a.
Tongkat
panjang (alat bantu mobilitas berupa tongkat panjang yang terbuat dari
alumunium)
b.
Tongkat
Lipat (alat bantu mobilitas berupa tongkat yang dapat dilipat terbuat dari alumunium)
c.
Tongkat
elektrik (alat bantu mobilitas berupa tongkat yang berbunyi apabila ada benda
di dekatnya)
d.
Bola
bunyi (bola sepak yang mengeluarkan
bunyi)
e.
Pelindung
kepala (alat pengaman kepala dari benturan/helm sport)
2.
Alat Bantu Pembelajaran/Akademik
Layanan pendidikan untuk anak
tunanetra selain mengembangkan sikap, pengetahuan dan kreativitas juga mengembangkan
kemampuan untuk membaca, menulis
dan berhitung,
namun akibat kelainan penglihatan anak tunanetra mengalami kesulitan
untuk mengakses seperti anak reguler.
Untuk
membantu penguasaan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dapat
dilakukan dengan menggunakan alat-alat
seperti berikut ini.
a.
Peta Timbul (peta tiga dimensi
bentuk relief)
b.
Abacus (alat bantu berhitung)
c.
Penggaris Braille (penggaris dengan skala ukur bentuk relief)
d.
Blokies (sejumlah dadu dengan simbol Braille dengan papan berkotak)
e.
Papan Baca (alat untuk melatih
membaca)
f.
Meteran Braille (alat untuk mengukur panjang/lebar dengan skala ukur dengan
simbol Braille)
g.
Kompas Braille (pengukur posisi arah angin dengan tanda Braille)
h.
Kompas bicara (penunjuk arah angin dengan suara)
i.
Talking Watch (jam-tangan elektronik yang dapat mengeluarkan suara)
j.
Gelas Rasa (gelas untuk mengukur tingkat sensitifitas rasa)
k.
Botol Aroma (botol berisi cairan untuk mengukur tingkat sensitifitas bau)
l.
Braille Kit (perlengkapan pengenalan huruf dan angka Braille)
m.
Mesin tik Braille (mesin tik dengan huruf Braille)
n.
Kamus bicara (kamus yang dapat mengeluarkan suara berbentuk CD)
o.
Jam tangan Braille (jam tangan
dengan huruf Braile)
p.
Puzzle
Ball (puzle bentuk potongan bola/lingkaran)
q.
Model
Anatomi (Model anatomi tiga dimensi dan dapat dirakit)
r.
Globe
Timbul (bola dunia tiga dimensi)
s.
Bentuk–bentuk
Geometri (puzle bentuk potongan geometris/peraturan)
t.
Reglet
& Stylus (alat tulis Braille)
u.
Komputer
dan Printer dengan software Braille (program JAWS)
v.
Screen reader (software pembaca screen)
3.
Alat Bantu Visual (alat
bantu penglihatan)
Kelainan penglihatan
anak tunanetra bervariasi dari yang ringan (low vision) sampai yang total (total blind). Untuk membantu
memperjelas penglihatannya pada anak tunanetra jenis Low vision dapat digunakan alat bantu sebagai berikut.
a.
Magnifier
Lens Set (alat bantu penglihatan bagi low vision bentuk hand and standing berbagai ukuran)
b.
CCTV
(Closed Circuit Television/alat bantu baca untuk anak low vision berupa TV monitor)
c.
View
Scan (alat bantu baca untuk anak low vision berupa scaner)
d.
Televisi
(TV monitor/pesawat penerima gambar jarak jauh)
e.
Prism monocular (alat bantu melihat jauh)
4.
Alat Bantu Auditif (alat bantu pendengaran)
Untuk melatih kepekaan pendengaran
anak tunanetra dalam mengikuti pelajaran dapat digunakan alat-alat seperti
berikut ini:
a.
Tape
Recorder Doble Dek (alat rekam/tampil suara model dua tempat
kaset)
b.
Alat
Musik Pukul (alat-alat musik jenis pukul/perkusi)
c.
Alat
Musik Tiup (alat-alat musik jenis tiup)
5.
Alat Latihan Fisik
Pada umumnya anak tunanetra
mengalami kesulitan dan kelambanan dalam melakukan aktivitas fisik/motorik. Hal ini akan
berpengaruh terhadap kekuatan fisiknya yang dapat menimbulkan kerentanan terhadap kesehatannya.
Untuk mengembangkan kemampuan
fisik alat yang dapat digunakan untuk anak tunanetra
adalah sebagai berikut .
a.
Catur
tunanetra (papan catur dangan permukaan tidak sama untuk kotak hitam dan putih,
sehingga buah catur tidak mudah bergeser)
b.
Bridge
tunanetra (kartu bridge dilengkapi huruf Braille)
c.
Sepak
bola dengan bola berbunyi (bola sepak yang dapat menimbulkan bunyi)
d.
Papan
Keseimbangan (papan titian untuk melatih keseimbangan pada saat berjalan)
e.
Power
Rider (alat untuk melatih kecekatan motorik)
f.
Static
Bycicle (speda permanen/tidak dapat melaju)
G.
STRATEGI
PEMBELAJARAN BAGI ANAK TUNANETRA
Strategi
pembelajaran pada dasarnya adalah pendayagunaan secara tepat dan optimal dari
semua komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran yang meliputi tujuan,
materi pelajaran, media, metode, siswa, guru, lingkungan belajar dan evaluasi
sehingga proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan efesien. Beberapa hal
yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan strategi
pembelajaran, antara lain:
a. Berdasarkan pengolahan pesan
terdapat dua strategi yaitu strategi pembelajaran deduktif dan induktif.
b. Berdasarkan pihak pengolah pesan
yaitu strategi pembelajaran ekspositorik dan heuristic.
c. Berdasarkan pengaturan guru yaitu
strategi pembelajaran dengan seorang guru dan beregu.
d. Berdasarkan jumlah siswa yaitu
strategi klasikal, kelompok kecil dan individual.
e. Beradsarkan interaksi guru dan siswa
yaitu strategi tatap muka, dan melalui media.
f. Selain strategi yang telah
disebutkan di atas, ada strategi lain yang dapat diterapkan yaitu strategi
individualisasi, kooperatif dan modifikasi perilaku.
Di samping strategi yang telah
dijelaskan diatas, ada strategi lain yang dapat diterapkan dalam pembelajaran
anak tunanetra, yaitu:
Ø Strategi individualisasi,
Ø Kooperatif, dan
Ø Modifikasi perilaku
Permasalahan dalam strategi
pembelajaran anak tunanetra adalah bagaimana upaya guru dalam melakukan
penyesuaian (modifikasi) terhadap semua komponen dalam proses pembelajaran
sehingga pesan maupun pengalaman pembelajaran menjadi sesuatu yang dapat
diterima/ditangkap oleh anak tunanetra melalui indera-indera yang masih
berfungsi, yaitu indera pendengaran, perabaan, pengecapan, serta sisa
penglihatan (bagi anak low vision).
Permasalahan lainnya adalah
bagaimana guru membiasakan dan melatih indera yang masih berfungsi pada anak
tunanetra agar lebih peka dalam menangkap pesan pembelajaran.
Agar lebih mudah melakukan
modifikasi dalam strategi pembelajaran anak tunanetra, guru harus memahami
prinsip-prinsip dasar dalam pembelajaran anak tunanetra, yaitu sebagai berikut.
a. Prinsip individual
Prinsip individual, mempunyai
pengertian bahwa dalam proses pembelajaran, seorang guru harus memperhatikan
perbedaan-perbedaan individu.
b. Prinsip kekonkretan/pengalaman
penginderaan langsung
Prinsip ini mempunyai pengertian
bahwa strategi pembelajaran yang digunakan guru harus memungkinkan anak
tunanetra mendapatkan pengalaman secara nyata dari apa yang dipelajarinya.
c. Prinsip totalitas
Prinsip ini mempunyai pengertian
bahwa strategi pembelajaran yang dilakukan guru harus memungkinkan anak
tunanetra memperoleh pengalaman objek atau setuasi secara total atau
menyeluruh.
d. Prinsip aktivitas mandiri (self activity)
Prinsip ini mempunyai pengertian
bahwa strategi pembelajaran harus memungkinkan siswa memperoleh kesempatan
untuk belajar secara aktif dan mandiri. Dengan demikian, guru berfungsi sebagai
fasilitator, yang membantu kemudahan siswa belajar dan motivasi, yang membangkitkan
motivasi anak untuk belajar.
H. MEDIA PEMBELAJARAN
BAGI TUNANETRA
Media pembelajaran merupakan
komponen yang tidak dapat dilepaskan dari suatu proses pembelajaran karena
keberhasilan proses pembelajaran tersebut, salah satunya ditentukan oleh
penggunaan komponen ini.
Menurut fungsinya, media
pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua kelompok sebagai berikut.
·
Media
yang berfungsi untuk memperjelas penanaman konsep, yang sering disebut sebagai
alat peraga.
·
Media
yang berfungsi untuk membantu kelancaran proses pembelajaran itu sendiri yang
sering disebut sebagai alat bantu pembelajaran.
Berikut ini akan dijelaskan
jenis-jenis alat peraga dan alat bantu pembelajaran yang dapat digunakan dalam
proses pembelajaran anak tunanetra.
1. Alat peraga
a.
Objek
atau situasi yang sebenarnya.
Contohnya, objek yang sebenarnya: tumbuhan dan hewan
asli/sebenarnya.
b.
Benda
asli yang diawetkan, contohnya binatang yang diawetkan.
c.
Tiruan
(model), yang terdiri dari model tiga dimensi dan dua dimensi.
·
Model/tiruan
3 dimensi memiliki dimensi panjang, lebar, dan tinggi (memiliki volume)
sehingga bentuknya hampir sama dengan objek sebenarnya, akan tetapi sifat
substansi, permukaan, dan ukuran ada kemungkinan tidak sama.
·
Model
dua dimensi, yaitu dimensi panjang dan lebar.
2. Alat bantu pembelajaran
Alat bantu pembelajaran yang dapat digunakan oleh anak
tunanetra, antara lain berikut ini.
·
Alat bantu untuk baca-tulis,
·
Alat bantu untuk membaca (bagi anak low vision),
·
Alat bantu berhitung,
·
Alat bantu audio yang sering
digunakan oleh anak tunanetra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar